Keramahan Kuil Cao Dai

Liburan awal tahun ini adalah liburan yang sangat saya nantikan. Kebetulan salah satu maskapai penerbangan memberi promosi tiket yang sangat murah ke Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Saya nekat saja membeli tiket meski belum yakin apakah tanggal keberangkatan yang saya dapat sesuai dengan jadwal libur sekolah. Soalnya, bekerja sebagai guru tidak seperti orang kantoran, yang bisa mengajukan cuti kapan saja. Guru harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan.

Harga tiket yang Rp 199 ribu sangat menggiurkan. Kalaupun tanggal keberangkatan tidak cocok dengan jadwal libur, saya tidak begitu rugi kalau tiket terpaksa harus dihanguskan. Syukurlah, jadwal libur sekolah yang tiga pekan itu sangat cukup untuk masuk dalam tanggal keberangkatan tiket di awal Januari lalu. Akhirnya saya dan suami pun sampai di Negeri Paman Ho.

Saya menginap di Saigon Mini Hotel di daerah Bue Vinh, Distrik 1. Kawasan ini terkenal sebagai kawasan turis backpacker. Saya sempat menjelajahi Internet untuk mencari obyek wisata. Satu obyek wisata yang menarik minat saya adalah Cu Chi Tunnel, yang legendaris. Terowongan bawah tanah yang terletak di Distrik Cu Chi ini dijadikan basis oleh tentara Vietcong untuk menyiapkan serangan gerilya dalam Perang Vietnam.

Untuk mengunjungi tempat itu, saya sengaja mencari biro perjalanan yang menawarkan paket wisata yang paling murah. Walhasil, saya harus berjalan kaki cukup jauh dari hotel. Tidak apa, hitung-hitung sekalian rekreasi dalam kota. Ternyata semua biro perjalanan menjual paket wisata dengan harga yang sama. Wow, hebatnya sistem pariwisata Vietnam. Meskipun bersaing, sangat terorganisasi. Mereka tidak perlu khawatir kekurangan pembeli.

Saya memutuskan mengunjungi Terowongan Cu Chi. Tapi karyawan biro jasa menggoda rasa penasaran saya dengan informasinya tentang Kuil Cao Dai. Menurut dia, Cao Dai memiliki elemen dari beberapa agama besar di dunia. Wah, seperti apa, ya? Akhirnya saya mendapat paket tur sehari mengunjungi Kuil Cao Dai dan Terowongan Cu Chi seharga US$ 7. Harga tersebut sudah termasuk dua kali makan.

Di hari keberangkatan, saya berlari-lari mengejar waktu mencari biro perjalanan yang kemarin sudah saya bayar. Hampir saya lupa lokasinya, maklum ada banyak biro perjalanan di kawasan ini. Rasa pegal di kaki saya karena menyurvei biro perjalanan masih belum hilang. Ternyata saya orang yang pertama yang dijemput, jadi leluasa memilih kursi paling depan agar dapat menikmati perjalanan.

Tepat pukul 08.00, bus yang saya tumpangi mulai melaju ke tempat biro jasa lain lain untuk mengangkut para wisatawan. Begitu seterusnya sampai bus penuh diisi sekitar 32 penumpang. Perjalanan wisata pun dimulai dengan mengunjungi Kuil Cao Dai, yang terletak di wilayah Tay Ninh, sekitar 96 kilometer sebelah barat laut Kota Ho Chi Minh, dekat perbatasan Kamboja.

Bus melaju perlahan tapi pasti. Perjalanan ke Kuil Cao Dai butuh sekitar dua jam. Kami sempat mampir ke sebuah tempat pembuatan suvenir. Suasana menuju lokasi tidak berbeda jauh dengan suasana jalan di Indonesia, padat dan panas. Perjalanan cukup seru karena pemandu wisata kami bernama Lee terus berbicara tentang apa saja yang ditemui.

Lee, yang lebih suka dipanggil Mr. Fatman, sebenarnya tidak gemuk-gemuk amat. Fisiknya seperti Ruben Onsu, pembawa acara banyak program di televisi itu, tapi ia terlihat lucu dan bersahabat.

Pukul 11.30, kami tiba di kompleks Kuil Cao Dai. Kesan pertama saya melihat kuil ini unik tak seperti kuil yang pernah saya lihat. Jika dilihat arsitekturnya, merupakan percampuran dari kuil Jepang, Cina, dan arsitektur lokal. Kompleks kuil berada jauh dari permukiman. Dari lokasi parkir kendaraan, rombongan pengunjung harus berjalan sejauh 100 meter.

Cao Dai adalah agama yang relatif baru. Ia diciptakan oleh spiritualis Vietnam pada sekitar 1926. Tapi kini Cao Daism menjadi agama ketiga terbesar di Vietnam setelah Buddha dan Katolik. Pengikutnya ada sekitar 7 juta warga Vietnam dan puluhan ribu pengikut yang tinggal di negara-negara lain.

Agama ini diwakili dalam teologi Cao Dai melalui konsep-konsep seperti reinkarnasi, vegetarian, serta yin dan yang. Juga pada tiga warna utama mereka, yaitu kuning yang melambangkan Buddhisme dan kebajikan; biru melambangkan Taoisme dan pasifisme; serta merah melambangkan Konfusianisme dan otoritas.

Cao Dai dipandang sebagai jawaban atas agama ideal yang menggabungkan elemen dari banyak agama utama dunia, termasuk Buddha, Konghucu, Kristen, Hindu, Islam, Yudaisme, Taoisme, serta Geniism (agama asli Vietnam). Mereka percaya bahwa semua agama adalah sama.

Kami datang bertepatan dengan upacara ritual. Dari pintu gerbang, saya masuk ke bangunan utama yang berwarna cerah. Kuil ini memiliki panjang 140 meter dan lebar 40 meter serta dilengkapi empat menara. Saya langsung takjub ketika melihat kuil ini karena banyak sekali ornamen yang dipakai dan dipadupadankan oleh berbagai warna cerah. Sungguh menyegarkan mata.

Hal yang menarik perhatian saya adalah simbol Mata Suci, yang selalu ada di sekitar kuil, terutama pada dinding-dindingnya. Simbol ini adalah simbol yang terpenting bagi penganut agama Cao Daism, yaitu simbol mata yang mewakili mata Tuhan. Simbol mata ini dibingkai dalam sebuah segitiga yang dikelilingi sinar matahari dan ukiran bunga teratai sebagai ornamen pengaturan cahaya untuk interior kuil.

Di bagian dalam kuil terdapat sebuah aula besar dengan dua barisan dari 28 pilar besar berukiran naga yang mewakili 28 manifestasi dari Sang Buddha. Langit-langit kubah dibagi menjadi sembilan bagian yang dilukis gambar langit dengan warna biru cerah, dipenuhi awan putih, dan dilengkapi bintang yang melambangkan surga. Di sekitar lampu juga dipenuhi oleh berbagai ukiran simbol hewan yang memiliki makna masing-masing.

Di depan pintu masuk kuil, saya menemukan hal menarik lainnya, yaitu adanya tiga patung tokoh yang dihormati dalam agama Cao Daism. Tokoh tersebut adalah Victor Hugo (novelis Prancis), Sun Yat Sen (pemimpin politik Cina), dan Nguyen Bin Khiem (penyair Vietnam). Sungguh pemandangan unik. Selama ini saya mengenal Hugo hanya dari tulisan-tulisannya. Saya benar-benar tidak menyangka sosok beliau ternyata ada di kuil Cao Dai.

Mr. Fatman menjelaskan, “Penganut Cao Dai tidaklah menyembah Victor Hugo, melainkan mereka mendirikan patung beliau untuk menghormatinya karena Victor Hugo seperti nabi yang meramalkan akan munculnya agama yang baru untuk menyatukan spiritualitas Asia dan dunia Barat.” Hal itu benar-benar terbukti dengan adanya agama Cao Dai.

Keramahan para penganut Cao Dai sangat terasa. Sebagai tamu, saya dan para pengunjung lainnya disambut dengan hangat. Mereka mentoleransi wisatawan untuk melihat ritual keagamaannya. Untuk memasuki kuil, kami hanya diminta mengenakan rok atau celana yang menutupi lutut serta melepaskan sepatu sebelum masuk. Kebetulan pada saat itu saya memakai kebaya putih panjang dan celana hitam panjang.

Kami, para wisatawan, diberi tempat khusus untuk melihat prosesi ritual keagamaan, yaitu dari balkon lantai atas yang membentang di sepanjang kuil. Setelah masuk ke kuil, saya langsung dapat merasakan perbedaan suasana yang drastis, sangat terasa tenang dan damai seolah mengajak saya melupakan sejenak hiruk-pikuk kegiatan sehari hari.

Salah satu pemandangan paling mengesankan di dalam kuil adalah ketika melihat lautan pengikut Cao Daism, yang mengenakan jubah serba putih berjalan masuk secara sistematis, lalu berkumpul dan berbaris dengan tertib saat upacara. Jemaat pria dan wanita terpisah. Semua pria duduk berbaris di bagian sebelah kanan, sedangkan perempuan di sebelah kiri.

Upacara dimulai setelah salah satu imam berdiri dan berjalan menuju altar untuk melakukan penghormatan. Diiringi suara gong sebagai aba-aba, jemaat serempak berlutut bersamaan di depan altar mengawali doa. Para imam dengan mudah dapat saya kenali. Mereka memakai topi putih berhiaskan Mata Suci dan mengenakan jubah berwarna cerah, kuning, biru, dan merah, yang mencerminkan kesetiaan rohani mereka.

Selama beribadah, semua elemen dari agama besar yang mereka pakai ditunjukkan dalam gerakan dan aktivitas saat berdoa. Seperti bersujud (Islam), bernyanyi atau membaca mantra (Taoisme/Buddhisme), dan membuat tanda salib (Kristen). Sangat eksotis, bukan? Tak lama kemudian, suara gong menyatu dalam irama musik instrumen petikan dan nyanyian yang harmonis dari kelompok paduan suara.

Saya sempat mengabadikan momen penting itu dengan kamera saya. Entah mengapa, kebetulan pada saat itu saya adalah satu-satunya pengunjung yang diperbolehkan berdiri tepat di tengah balkon, yang menghadap altar utama dan di belakang saya duduk kelompok orkestra yang terdiri atas 10 musikus. Mereka duduk melingkar dengan hikmat memainkan musik tradisional berdampingan dengan paduan suara dari beberapa wanita muda untuk memimpin ritual keagamaan dalam doa dan lagu.

Upacara keagamaan dilakukan setiap hari oleh jemaat di kuil ini. Mereka berdoa empat kali sehari, yaitu pukul 06.00, di tengah siang, pukul 18.00, dan tengah malam. Beberapa saat kemudian tiba-tiba penjaga kuil meminta saya keluar dari tengah balkon dan bergabung dengan wisatawan lain. Rupanya mereka mengira saya adalah salah satu anggota jemaat karena kebaya saya hampir menyerupai jubah putih mereka.

Pantas saja saya tadi diajak bicara dengan bahasa isyarat dan diperbolehkan berada di tengah-tengah mereka. Wah, ternyata mereka salah kira. Di akhir kunjungan, saya menyempatkan diri berfoto dengan salah seorang anggota jemaat di depan kuil. Sungguh fantastis mengunjungi kuil Cao Dai, meskipun saya dibuat bingung dengan elemen campuran dari berbagai agama yang mereka percayai dan patung Victor Hugo itu.

Explore posts in the same categories: Articel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: