Bertemu Hewan Khas Australia

Posted November 15, 2011 by Anet
Categories: Articel

Berlibur ke Australia dengan biaya murah ternyata bisa juga saya alami. Bersama suami, saya berangkat ke Negeri Kanguru pada pertengahan Juni lalu. Persiapannya hampir selama setahun. Jadi saya bisa menabung, menyiapkan visa, dan mencari info tempat wisata yang asyik dikunjungi.

Saya sebut berbiaya murah karena maskapai penerbangan murah milik Asia membuka rute baru ke Melbourne. Mereka menawarkan tiket promosi nol rupiah. Sayangnya, tidak ada rute langsung dari Jakarta sehingga saya harus membeli promosi lainnya. Saya mendapatkan tiket murah meriah Jakarta-Kuala Lumpur-Melbourne-Kuala Lumpur-Jakarta. Total biaya yang saya keluarkan sekitar Rp 1,5 juta. Murah sekali, bukan?

Tanggal keberangkatannya pun ajaib, nyaris satu tahun. Promosi ini ditawarkan karena pada bulan Juni-Juli di Australia sedang dingin-dinginnya. Jadi banyak warganya yang berkunjung ke negara-negara tropis.

Informasi yang saya dapatkan di Internet menyebutkan bahwa obyek wisata yang wajib dikunjungi bila ke Australia adalah Sydney Opera dan Kebun Binatang Taronga. Tidaklah lengkap rasanya jika tidak berpose di depan Sydney Opera dan berjumpa dengan hewan-hewan khasnya. Jadi saya memasukkan dua obyek itu dalam daftar itenary.

Sampai juga saya pada hari keberangkatan. Kami menghabiskan seminggu pertama di Australia dalam kedinginan. Suhu
di Melbourne saat itu berkisar 7-18 derajat Celsius. Saya menggigil sepanjang hari dari pagi hingga malam. Saya senang karena target kunjungan saya di kota ini akhirnya terlaksana: berpose di depan gedung Sydney Opera yang unik itu.

Di Melbourne, saya mencari info di Internet bagaimana mencapai Sydney. Ternyata, jika memakai bus, butuh waktu  perjalanan selama 13 jam. Ongkosnya pun bervariasi, dari Aus$ 66 sampai Aus$ 80 tergantung operator dan fasilitas
yang diberikan. Tapi ada maskapai penerbangan murah lokal berlogo macan yang menawarkan tiket dengan kisaran Aus$ 70-99. Isengiseng saya mengutak-atik tanggal keberangkatan dan tahu-tahu harga Aus$ 0 terpampang di layar monitor, dan langsung saja saya beli. Total biaya yang harus saya keluarkan sebesar Aus$ 28. Wah, untuk urusan tiket, sepertinya saya memang selalu selalu beruntung.

Seperti disebutkan di laman Wikipedia, kota terbesar di Australia itu merupakan kota termahal ke-66 di dunia. Maka, untuk menghemat biaya, saya menginap di Sydney City Hostel dan memilih kamar dormitory, yang berkapasitas untuk 10 orang yang digabung antara pria dan wanita. Tarifnya Aus$ 19 per orang per malam.Hostel ini berada di kawasan China Town, dekat sekali dengan Paddys Market dan City sehingga memudahkan mobilitas saya selama di sana.

Ketika saya asyik membalik-balik brosur pariwisata yang tersedia di hostel, Merry, salah satu teman sekamar kami dari Irlandia, menanyakan tujuan kami datang ke Sydney. Saya pun menjawab dengan jawaban standar sambil senyam-senyum untuk mencairkan suasana, “Lagi liburan, melihat Sydney Opera dan berencana ke Taronga Zoo untuk berfoto dengan kanguru.” Merry pun dengan antusias menimpali jawaban saya dengan berbagi pengalamannya hari itu: mengunjungi salah satu kebun binatang di Sydney bersama sepupunya yang kuliah di Australia. Ia lalu menunjukkan
foto-foto dari kamera sakunya.

Ternyata kebun binatang yang dia tunjukkan bukanlah kebun binatang yang saya maksud, melainkan kebun binatang
yang berada di pinggiran kota Sydney. Dia menyarankan, jika ingin melihat dan bermain bersama hewan khas Australia, sebaiknya mendatangi kebun binatang Featherdale Wildlife, yang baru saja ia kunjungi. Soalnya, kalau di Taronga Zoo, kebun binatangnya lebih mengarah kepada hewan internasional dan sulit untuk berinteraksi langsung dengan hewan-hewannya.

Tergiur melihat foto-foto Merry yang asyik bermain bersama kanguru, saya membujuk suami saya untuk mengubah daftar kunjungan menjadi ke Featherdale Wildlife. Kami mengunjungi Featherdale Wildlife pada hari kelima berada di Sydney.

Untuk mencapainya tidaklah sulit. Dari Stasiun Centre, saya membeli tiket return ke Black Town seharga Aus$ 6,4. Setelah itu dilanjutkan dengan menggunakan bus nomor 725 dengan harga tiket Aus$ 2. Bus berhenti tepat di depan kebun binatang. Hanya membutuhkan waktu kurang-lebih 40 menit perjalanan dari pusat kota Sydney.

Untuk masuk ke Featherdale Wildlife, pengunjung dikenai karcis seharga Aus$ 23.Tapi para pelajar dan pensiunan
mendapatkan harga khusus yang jauh lebih murah. Tidak ada pembatasan apa pun untukbisa masuk ke kebun binatang ini. Rasa senang memenuhi hati saya karena bisa memotret kanguru, satwa khas Australia yang tersohor itu, dari  dekat.

Tapi tiba-tiba rasa bungah saya berubah menjadi panik ketika sekumpulan kanguru berlarian ke arah kami, para  pengunjung. Saya dan beberapa pengunjung yang baru datang berteriak-teriak ketakutan, mengira ada kanguru yang lepas. Tapi suami saya malah tertawa melihat kejadian itu. Dia langsung menenangkan saya sambil menunjuk ke arah
kandang kanguru yang pagarnya memang tinggi tapi tidak rapat. Wah… saya jadi malu, untungnya saya enggak malu sendirian.

Setelah mengamati sesaat, saya baru menyadari bahwa tempat ini dirancang dengan konsep kandang terbuka untuk beberapa binatang yang ramah dan bersahabat. Sementara itu, binatang-binatang lainnya yang lebih liar atau buas
ditempatkan di kandang khusus.

Tempat ini menyediakan beberapa area yang tiap area berisi kandang terbuka, seperti area untuk kanguru, emu, dan koala. Setiap area yang berisi kandang ini terhubung dengan jalan yang bisa dibuka-tutup oleh pengunjung. Tinggi
pintunya kira-kira setengah meter dan mempunyai sistem menutup sendiri. Jadi binatang yang ada di dalam area tidak bisa masuk ke area lain walau, misalnya, pengunjung lupa menutup pintunya.

Sementara itu, ada area dengan kandang-kandang lainnya yang berisi binatang buas, liar, atau galak dibuatkan kandang
khusus, misalnya untuk buaya, tazmanian devil, dingo, wombat, dan ular. Selain itu, ada area berisi berbagai macam
burung.

Setelah rasa kaget saya hilang, saya kembali asyik bermain bersama kanguru dan gerombolan burung emu yang kemudian
datang tidak mau kalah berinteraksi dengan para pengunjung. Burung yang hampir setinggi saya itu hampir membuat saya ngeri karena besarnya. Tapi mereka lucu, dengan antengnya mereka mau difoto dan diusap-usap.

Berbeda dengan area hewan koala, saya mendapati sebagian besar koala sedang tidur di atas pohon yang berada di dalam pagar. Tetapi ada satu koala yang belum tidur dan berada di luar kandang sedang bertengger di atas sebatang pohon pendek. Para pengunjung bisa berinteraksi dengan hewan menggemaskan ini dengan diawasi oleh seorang pengawas.

Mengapa kebanyakan koala itu senang berada di atas pohon, ya? Saya penasaran. “Apakah mereka tidak turun untuk mencari minum?” tanya saya kepada petugas yang mengawasi koala.“Koala sebenarnya minum air, tapi sangat jarang karena makanannya daun ekaliptus, yang sudah mengandung cukup air, sehingga tidak perlu turun dari pohon untuk minum,” ia menjelaskan. Karena itulah nama satwa ini koala, diambil dari bahasa pribumi Australia yangberarti tidak minum. Koala membutuhkan 18-20 jam sehari untuk istirahat tanpa bergerak alias tidur.“Hmmm… pantas saja banyak
koala yang lagi bobok.”

Saat berada di area ini, perhatian saya dan suami terfokus pada orang-orang yang antre untuk mendapatkan stempel. Dengan ramah saya bertanya kepada salah satu pengunjung yang asyik mencap brosurnya. Oooala, ternyata setiap pengunjung menandai tempat yang telah dikunjungi dengan cap bergambar satwa pada brosur yang diberikan di loket pembeli tiket itu.

Wah, sambil tertawa, saya pun bersama suami kembali mundur ke area pertama untuk menstempel brosur milik kami. Luar biasa, hal-hal kecil seperti ini sampai dipikirkan oleh pengelolanya. Sepertinya ini suatu keunikan juga dari kebun binatang itu.

Selain koala, ada satu lagi binatang yang saya impikan dilihat secara langsung dengan mata kepala sendiri, yakni  tazmanian devil, yang selalu saya lihat di film-film kartun. Tidak seperti koala, tazmanian devil ditempatkan di sebuah kandang khusus yang tertutup, karena kalau tidak tertutup bisa kabur.

Begitu sampai di areanya, ternyata terlihat kosong. Si tazmanian devil ternyata sedang bersembunyi di lubang pohon. Sepuluh, dua puluh menit, saya sabar menunggu, tapi ia belum mau keluar juga. Akhirnya saya memutuskan berkeliling dulu untuk melihat binatang khas lainnya, baru nanti kembali lagi.

Satwa yang saya kunjungi berikutnya adalah penguin, dingo, dan hewan reptil. Bahkan saya sempat ke bagian hewan ternak. Di sana, saya berjumpa dengan kalkun jantan besar yang sedang beraksi mengembangkan sayap dan ekornya. Itu untuk menarik perhatian kalkun betina.

Perilaku ini berkaitan dengan musim kawin kalkun yang mengenakan baju dengan warnamencolok karena dianggap akan membahayakannya. Lelah berkeliling, saya dan pengunjung lainnya, yang kebanyakan adalah keluarga beserta  anak-anaknya, beristirahat. Saya membuka bekal makan siang yang kami bawa.

Pihak pengelola menyediakan meja-meja taman di bawah pohon rindang. Sambil menyantap makan siang, kami bisa sekalian melihat berbagai jenis burung dan terhibur oleh kicauannya.

Setelah perut kenyang, saya kembali menuju kandang tazmanian devil. Di sana sudah banyak pengunjung yang asyik mengamati hewan pengerat berwarna hitam gelap yang sedang berputar-putar itu. Sepertinya dia sedang bermain-main. Tidak ingin kehilangan momen, saya langsung saja mengabadikannya.

Ternyata hewan bernama Latin Sarcophilus harisii itu tak selucu seperti digambarkan di film kartun. Sedihnya lagi, hewan
langka di dunia ini terancam punah akibat kanker wajah. Semoga para ilmuwan bisa menemukan terapi penyembuhnya
sehingga hewan ini tetap eksis.

Tak terasa waktu lima jam sudah saya habiskan di kebun binatang ini. Untuk keluar dari area ini, saya melewati lorong yang dindingnya dipenuhi potongan artikel media cetak dari berbagai dunia yang mengulas Featherdale Wildlife.

Di ujung pintu keluar ada toko suvenir yang menjual berbagai pernak-pernik kebun binatang ini. Ada juga mesin penjual koin khusus seharga Aus$ 2. Satu kejutan bagi saya ketika melihat plakat sertifikat di dinding pintu yang menyatakan
bahwa Featherdale Wildlife pernah mendapat penghargaan sebagai tempat rekreasi terbaik di Australia pada 2005
dan 2009 oleh badan pariwisata setempat.

Keramahan Kuil Cao Dai

Posted September 15, 2011 by Anet
Categories: Articel

Liburan awal tahun ini adalah liburan yang sangat saya nantikan. Kebetulan salah satu maskapai penerbangan memberi promosi tiket yang sangat murah ke Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Saya nekat saja membeli tiket meski belum yakin apakah tanggal keberangkatan yang saya dapat sesuai dengan jadwal libur sekolah. Soalnya, bekerja sebagai guru tidak seperti orang kantoran, yang bisa mengajukan cuti kapan saja. Guru harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan.

Harga tiket yang Rp 199 ribu sangat menggiurkan. Kalaupun tanggal keberangkatan tidak cocok dengan jadwal libur, saya tidak begitu rugi kalau tiket terpaksa harus dihanguskan. Syukurlah, jadwal libur sekolah yang tiga pekan itu sangat cukup untuk masuk dalam tanggal keberangkatan tiket di awal Januari lalu. Akhirnya saya dan suami pun sampai di Negeri Paman Ho.

Saya menginap di Saigon Mini Hotel di daerah Bue Vinh, Distrik 1. Kawasan ini terkenal sebagai kawasan turis backpacker. Saya sempat menjelajahi Internet untuk mencari obyek wisata. Satu obyek wisata yang menarik minat saya adalah Cu Chi Tunnel, yang legendaris. Terowongan bawah tanah yang terletak di Distrik Cu Chi ini dijadikan basis oleh tentara Vietcong untuk menyiapkan serangan gerilya dalam Perang Vietnam.

Untuk mengunjungi tempat itu, saya sengaja mencari biro perjalanan yang menawarkan paket wisata yang paling murah. Walhasil, saya harus berjalan kaki cukup jauh dari hotel. Tidak apa, hitung-hitung sekalian rekreasi dalam kota. Ternyata semua biro perjalanan menjual paket wisata dengan harga yang sama. Wow, hebatnya sistem pariwisata Vietnam. Meskipun bersaing, sangat terorganisasi. Mereka tidak perlu khawatir kekurangan pembeli.

Saya memutuskan mengunjungi Terowongan Cu Chi. Tapi karyawan biro jasa menggoda rasa penasaran saya dengan informasinya tentang Kuil Cao Dai. Menurut dia, Cao Dai memiliki elemen dari beberapa agama besar di dunia. Wah, seperti apa, ya? Akhirnya saya mendapat paket tur sehari mengunjungi Kuil Cao Dai dan Terowongan Cu Chi seharga US$ 7. Harga tersebut sudah termasuk dua kali makan.

Di hari keberangkatan, saya berlari-lari mengejar waktu mencari biro perjalanan yang kemarin sudah saya bayar. Hampir saya lupa lokasinya, maklum ada banyak biro perjalanan di kawasan ini. Rasa pegal di kaki saya karena menyurvei biro perjalanan masih belum hilang. Ternyata saya orang yang pertama yang dijemput, jadi leluasa memilih kursi paling depan agar dapat menikmati perjalanan.

Tepat pukul 08.00, bus yang saya tumpangi mulai melaju ke tempat biro jasa lain lain untuk mengangkut para wisatawan. Begitu seterusnya sampai bus penuh diisi sekitar 32 penumpang. Perjalanan wisata pun dimulai dengan mengunjungi Kuil Cao Dai, yang terletak di wilayah Tay Ninh, sekitar 96 kilometer sebelah barat laut Kota Ho Chi Minh, dekat perbatasan Kamboja.

Bus melaju perlahan tapi pasti. Perjalanan ke Kuil Cao Dai butuh sekitar dua jam. Kami sempat mampir ke sebuah tempat pembuatan suvenir. Suasana menuju lokasi tidak berbeda jauh dengan suasana jalan di Indonesia, padat dan panas. Perjalanan cukup seru karena pemandu wisata kami bernama Lee terus berbicara tentang apa saja yang ditemui.

Lee, yang lebih suka dipanggil Mr. Fatman, sebenarnya tidak gemuk-gemuk amat. Fisiknya seperti Ruben Onsu, pembawa acara banyak program di televisi itu, tapi ia terlihat lucu dan bersahabat.

Pukul 11.30, kami tiba di kompleks Kuil Cao Dai. Kesan pertama saya melihat kuil ini unik tak seperti kuil yang pernah saya lihat. Jika dilihat arsitekturnya, merupakan percampuran dari kuil Jepang, Cina, dan arsitektur lokal. Kompleks kuil berada jauh dari permukiman. Dari lokasi parkir kendaraan, rombongan pengunjung harus berjalan sejauh 100 meter.

Cao Dai adalah agama yang relatif baru. Ia diciptakan oleh spiritualis Vietnam pada sekitar 1926. Tapi kini Cao Daism menjadi agama ketiga terbesar di Vietnam setelah Buddha dan Katolik. Pengikutnya ada sekitar 7 juta warga Vietnam dan puluhan ribu pengikut yang tinggal di negara-negara lain.

Agama ini diwakili dalam teologi Cao Dai melalui konsep-konsep seperti reinkarnasi, vegetarian, serta yin dan yang. Juga pada tiga warna utama mereka, yaitu kuning yang melambangkan Buddhisme dan kebajikan; biru melambangkan Taoisme dan pasifisme; serta merah melambangkan Konfusianisme dan otoritas.

Cao Dai dipandang sebagai jawaban atas agama ideal yang menggabungkan elemen dari banyak agama utama dunia, termasuk Buddha, Konghucu, Kristen, Hindu, Islam, Yudaisme, Taoisme, serta Geniism (agama asli Vietnam). Mereka percaya bahwa semua agama adalah sama.

Kami datang bertepatan dengan upacara ritual. Dari pintu gerbang, saya masuk ke bangunan utama yang berwarna cerah. Kuil ini memiliki panjang 140 meter dan lebar 40 meter serta dilengkapi empat menara. Saya langsung takjub ketika melihat kuil ini karena banyak sekali ornamen yang dipakai dan dipadupadankan oleh berbagai warna cerah. Sungguh menyegarkan mata.

Hal yang menarik perhatian saya adalah simbol Mata Suci, yang selalu ada di sekitar kuil, terutama pada dinding-dindingnya. Simbol ini adalah simbol yang terpenting bagi penganut agama Cao Daism, yaitu simbol mata yang mewakili mata Tuhan. Simbol mata ini dibingkai dalam sebuah segitiga yang dikelilingi sinar matahari dan ukiran bunga teratai sebagai ornamen pengaturan cahaya untuk interior kuil.

Di bagian dalam kuil terdapat sebuah aula besar dengan dua barisan dari 28 pilar besar berukiran naga yang mewakili 28 manifestasi dari Sang Buddha. Langit-langit kubah dibagi menjadi sembilan bagian yang dilukis gambar langit dengan warna biru cerah, dipenuhi awan putih, dan dilengkapi bintang yang melambangkan surga. Di sekitar lampu juga dipenuhi oleh berbagai ukiran simbol hewan yang memiliki makna masing-masing.

Di depan pintu masuk kuil, saya menemukan hal menarik lainnya, yaitu adanya tiga patung tokoh yang dihormati dalam agama Cao Daism. Tokoh tersebut adalah Victor Hugo (novelis Prancis), Sun Yat Sen (pemimpin politik Cina), dan Nguyen Bin Khiem (penyair Vietnam). Sungguh pemandangan unik. Selama ini saya mengenal Hugo hanya dari tulisan-tulisannya. Saya benar-benar tidak menyangka sosok beliau ternyata ada di kuil Cao Dai.

Mr. Fatman menjelaskan, “Penganut Cao Dai tidaklah menyembah Victor Hugo, melainkan mereka mendirikan patung beliau untuk menghormatinya karena Victor Hugo seperti nabi yang meramalkan akan munculnya agama yang baru untuk menyatukan spiritualitas Asia dan dunia Barat.” Hal itu benar-benar terbukti dengan adanya agama Cao Dai.

Keramahan para penganut Cao Dai sangat terasa. Sebagai tamu, saya dan para pengunjung lainnya disambut dengan hangat. Mereka mentoleransi wisatawan untuk melihat ritual keagamaannya. Untuk memasuki kuil, kami hanya diminta mengenakan rok atau celana yang menutupi lutut serta melepaskan sepatu sebelum masuk. Kebetulan pada saat itu saya memakai kebaya putih panjang dan celana hitam panjang.

Kami, para wisatawan, diberi tempat khusus untuk melihat prosesi ritual keagamaan, yaitu dari balkon lantai atas yang membentang di sepanjang kuil. Setelah masuk ke kuil, saya langsung dapat merasakan perbedaan suasana yang drastis, sangat terasa tenang dan damai seolah mengajak saya melupakan sejenak hiruk-pikuk kegiatan sehari hari.

Salah satu pemandangan paling mengesankan di dalam kuil adalah ketika melihat lautan pengikut Cao Daism, yang mengenakan jubah serba putih berjalan masuk secara sistematis, lalu berkumpul dan berbaris dengan tertib saat upacara. Jemaat pria dan wanita terpisah. Semua pria duduk berbaris di bagian sebelah kanan, sedangkan perempuan di sebelah kiri.

Upacara dimulai setelah salah satu imam berdiri dan berjalan menuju altar untuk melakukan penghormatan. Diiringi suara gong sebagai aba-aba, jemaat serempak berlutut bersamaan di depan altar mengawali doa. Para imam dengan mudah dapat saya kenali. Mereka memakai topi putih berhiaskan Mata Suci dan mengenakan jubah berwarna cerah, kuning, biru, dan merah, yang mencerminkan kesetiaan rohani mereka.

Selama beribadah, semua elemen dari agama besar yang mereka pakai ditunjukkan dalam gerakan dan aktivitas saat berdoa. Seperti bersujud (Islam), bernyanyi atau membaca mantra (Taoisme/Buddhisme), dan membuat tanda salib (Kristen). Sangat eksotis, bukan? Tak lama kemudian, suara gong menyatu dalam irama musik instrumen petikan dan nyanyian yang harmonis dari kelompok paduan suara.

Saya sempat mengabadikan momen penting itu dengan kamera saya. Entah mengapa, kebetulan pada saat itu saya adalah satu-satunya pengunjung yang diperbolehkan berdiri tepat di tengah balkon, yang menghadap altar utama dan di belakang saya duduk kelompok orkestra yang terdiri atas 10 musikus. Mereka duduk melingkar dengan hikmat memainkan musik tradisional berdampingan dengan paduan suara dari beberapa wanita muda untuk memimpin ritual keagamaan dalam doa dan lagu.

Upacara keagamaan dilakukan setiap hari oleh jemaat di kuil ini. Mereka berdoa empat kali sehari, yaitu pukul 06.00, di tengah siang, pukul 18.00, dan tengah malam. Beberapa saat kemudian tiba-tiba penjaga kuil meminta saya keluar dari tengah balkon dan bergabung dengan wisatawan lain. Rupanya mereka mengira saya adalah salah satu anggota jemaat karena kebaya saya hampir menyerupai jubah putih mereka.

Pantas saja saya tadi diajak bicara dengan bahasa isyarat dan diperbolehkan berada di tengah-tengah mereka. Wah, ternyata mereka salah kira. Di akhir kunjungan, saya menyempatkan diri berfoto dengan salah seorang anggota jemaat di depan kuil. Sungguh fantastis mengunjungi kuil Cao Dai, meskipun saya dibuat bingung dengan elemen campuran dari berbagai agama yang mereka percayai dan patung Victor Hugo itu.

Hello world!

Posted January 10, 2010 by Anet
Categories: Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!